Perjalanan di Kota Seribu Wat

Perjalanan di Kota Seribu Wat

Perjalanan di Kota Seribu WatPerjalanan di Kota Seribu Wat

Kali ini Saya bertiga dengan Sudar dan Fandy melancong ke Kota Seribu Wat, ya Wat dengan satu T bukan dua! Wat berarti kuil dalam bahasa Thai. Perjalanan kali ini juga hasil dari perburuan tiket murah dari salah satu low cost carrier favorit kami. Kami tiba di Bangkok pukul setengah 8 malam setelah menempuh sekitar empat jam penerbangan. Suvarnabhumi merupakan salah satu airport megah di Asia Tenggara, arsitektur megah dan tata ruang yang efisien menurut pendapat saya pertama kali mendarat disana. Kami bertiga langsung tidak membuang waktu dan mencari bus bandara yang menuju ke arah hotel kami menginap. Menunggu sekitar 20 menit, bus yang ditunggu pun tiba dan berangkat setelah menunggu sekitar 10 menit. Saya duduk di kursi depan sehingga dapat menyaksikan keadaan jalan di Bangkok pada malam hari, dari situ terlihat bahwa sistem transportasi disana cukup rapi dan kompleks. Jalan layang dan bebas hambatan bertumpuk dan bersilangan dengan jalur skytrain, walau sempat terjebak kemacetan tapi terlihat bahwa pengemudi disana jauh lebih tertib dan tidak berusaha menyalip melalui jalur yang tidak seharusnya. Setelah perjalanan selama empat puluh lima menit, bus kami tiba ditujuan akhir, ya hotel kami terletak di akhir rute bus ini, di kawasan backpackernya Bangkok.

Khao San Road memang terkenal sebagai kawasan jujukan para backpacker, suasananya mirip dengan keadaan di Poppies, Kuta , banyak pedagang sepanjang jalan, pub, café dan penjaja makanan bertebaran sepanjang jalan. Satu yang harus diingat bahwa kota ini anjing bertebaran dimana-mana, jauh lebih banyak dari populasi kucing jalanan. Apabila kebetulan berjalan-jalan di malam hari, terutama hari pertama dan mencari hotel melalui jalanan sepi, selalu lihat kebawah kalau tidak ingin kena jackpot seperti Fandy yang menginjak tahi anjing! Kawasan ini hidup hampir 24 jam, meski beberapa toko dan pedagang berhenti berjualan sejak pukul 11 keatas. Namun beberapa kedai makanan akan tetap buka hingga pelanggan terakhir selesai menikmati hidangan yang dipesan, tidak lupa banyaknya 7eleven bertebaran dikawasan ini menjamin Anda tidak akan kelaparan atau kebingungan jika hendak menghabiskan malam di Bangkok.

 Ketika kami bertiga selesai mandi, kami memutuskan untuk menghabiskan malam pertama di jalanan Khao San dan mencoba menikmati semua yang ditawarkan disini. Sudar yang sudah tak sabar mencoba Pad Thai, akhirnya memesan sepiring pad thai egg with pork, mirip Kwetiau tapi jika memilih pork pasti agak kaget dengan rasa dagingnya yang cenderung asam. Kemudian aneka barbeque, ada ikan, ayam, cumi, babi dan lain-lain yang ditusuk dengan lidi dan dipanggang setelah kita pesan disertai saus asam pedas. Ada pula jajanan yang mirip dengan martabak telor namun lebih kenyal dan cenderung manis, ada yang berisi pisang coklat, nutela, telor dan lain-lain. Ditengah kawasan tersebut kami dikejutkan dengan pedagang aneka serangga goreng, mengingat kami berlibur kesini untuk merasakan hal-hal unik, maka kami memesan sekantong serangga goreng campur. Selain serangga, ternyata ada juga kodok kecil yang digoreng utuh! Masing-masing kita coba dan berusaha untuk tidak muntah … hmm . . . ternyata rasanya seperti krupuk, kecuali ulat bambu yang teksturnya lebih berisi dan agak kesat seperti ayam. Sebagai penutup kami mencoba bir singha dan semangkuk tom yum seafood serta thai salad.


Paginya saya merasa membutuhkan bantuan yoghurt untuk mengatasi sembelit, problem langganan saat bepergian ke tempat asing. Ketika menuju 7eleven terdekat terlihat sekawanan bule mabuk yang berusaha merayu gadis didalam toko, Khao San banget! maka saya putuskan menuju ke 7eleven lainnya. Setelah itu kami segera beranjak menuju ke Grand Palace, berbekal dengan peta gratis dari bandara. Walau jarak dipeta tidak begitu jauh namun karena kami bertiga buta arah, maka perjalanan sempat terhambat karena kebingungan melihat nama jalanan yang didominasi aksara thai, sering disebut hanacaraka oleh Sudar. Sepanjang jalan kami melihat berbagai kegiatan warga disana, ada yang menjual lotre, aneka barbeque, dan beberapa dagangan lain, namun anehnya semua didominasi warna merah. Saya curiga apakah ini berkaitan dengan kampanye kaus merah yang sempat menimbulkan kerusuhan beberapa waktu lalu, namun hal ini terlupakan begitu kami tiba di Wat Ratchanadda yang begitu megah, namun sedang dalam pemugaran. Sambil mencari jalan menuju ke Grand Palace, kami sempatkan untuk mampir ke kuil yang berada disepanjang jalan untuk mengambil foto. Rupanya saat ini sedang berlangsung ritual atau upacara kematian karena kami melihat banyak orang berdoa dan rangkaian bunga disekitar kuil atau wat. Kejadian lucu terjadi saat melewati gang di sebuah kuil kami, terutama saya diteriaki sekelompok pria berseragam. Duh! Kenapa lagi nih? Aku salah apa? Pikirku. Ternyata topi yang saya bawa terjatuh dan mereka bermaksud mengingatkan … fiuh … kirain salah apa lagi, secara mereka berseragam dan langsung berteriak dengan bahasa yang tidak dimengerti sambil menunjuk-nunjuk kearah saya hahahaha . . .

Ternyata perjalanan ke Grand Palace yang menurut peta tidak terlalu jauh dari hotel jadi jauh karena kami yang buta peta dan melenceng dari jalur yang seharusnya. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah taman kota yang bisa dikenali lokasinya dengan mencocokan aksara thai dengan yang ada di peta. Mirip teknik tebak 10 perbedaan, hanya saja kita berusaha mencari persamaan aksara di pintu taman dengan aksara di peta lokasi dugaan kita. Ternyata kami berada di Rommaneenat Park, dan kami gunakan untuk mengistirahatkan kaki dan meminta bantuan GPS agar dapat menunjukkan rute yang benar ke Grand Palace. Setelah melepas lelah dan menemukan arah tujuan. Kami beranjak dan sampai ke perempatan besar dimana

kami dapat melihat kompleks istana dan Wat Pho diseberang jalan. Saya yang terlihat memegang peta langsung dihampiri seseorang yang berbasa-basi dan berkali-kali mengatakan “lucky tourist” pada kami. Saya yang tertahan dengan seorang yang ternyata sopir tuk-tuk ditinggal oleh Sudar dan Fandy yang asyik menyaksikan segerombolan tupai berlompatan di Pohon besar di Saranrom Park. Lepas sopir tuk-tuk, seseorang disana menghampiri kami yang terlihat kebingungan sambil memberikan saran tempat-tempat yang harus kami kunjungi di Bangkok dan memberi tahu bahwa Grand Palace baru buka pukul setengah satu karena ada perayaan Buddha hari ini. Ternyata dia adalah seorang tentara yang sedang tidak bertugas, dan sedang menunggu anaknya yang akan mengikuti jejaknya masuk ke militer. Dari orang ini pula kami mengetahui bahwa hari itu adalah hari besar Buddha yang artinya semua tiket masuk ke kuil gratis! Kami beruntung katanya, setelah memberikan saran tempat-tempat dan transport yang harus kami ambil sambil mengajarkan “Sam Sip Baht” atau 30 baht untuk berkeliling dengan tuk-tuk ke lima lokasi secara beruntun. Dia akhirnya iba dan menawar sopir tuk-tuk yang berbasa-basi dengan saya sambil memperkenalkan bahwa kami adalah temannya sehingga si sopir mau saja ditawar dari 100 baht ke 30 baht!


Perjalanan menggunakan tuk-tuk merupakan pengalaman menarik, karena selain kendaraan ini khas Thailand, cara mengemudi yang mirip bajaj di Jakarta merupakan hiburan tersendiri. Perhentian pertama adalah ke Sitting Buddha, yang merupakan kuil kecil. Disini Sudar sempat mendapat malu karena seperti biasa insting narsis mengarahkannya untuk berfoto sedekat mungkin dengan patung Buddha duduk di platform yang agak tinggi dan ternyata merupakan tempat duduk para biksu setelah kami ketahui dari sang pengurus kuil yang ramah. Rupanya dengan tarif semurah itu sang sopir berusaha menawarkan rute tambahan ke toko-toko permata untuk mendapatkan voucher bbm gratis. Awalnya kami tidak keberatan, toh selain

untuk cuci mata, kami membantu sang sopir mendapatkan bensin gratis. Namun setelah diantar ke toko ketiga, kami mulai agak terganggu karena kali ini kami diharuskan berkeliling selama kurang lebih 10 menit di toko kain yang tidak begitu besar dan ketika kami keluar untuk membeli makanan … eh, malah disemprot! Jadilah kami sambil menggerutu menunggu didalam toko selama 10 menit dan begitu keluar kami minta diantarkan ke Marble Temple.

Marble Temple atau nama aslinya Wat Benchamabophit, agak berbeda dari kuil kebanyakan disana yang cenderung berupa satu bangunan masif persegi. Sedangkan kuil ini terdiri dari sayap kiri dan sayap kanan simetris dengan bangunan utama menjulang tinggi dan semua dindingnya terbuat dari marmer. Puas menikmati

kuil ini kami segera beranjak ke gerbang keluar untuk mencari tuk-tuk kami yang akan mengantarkan ke Grand Palace karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Sial! Ternyata tuk-tuk kami pergi begitu saja, mungkin karena dia jengkel di toko kain yang terakhir hampir tidak mendapatkan jatah voucher bbm atau juga karena tarif 30 baht tadi. Tidak ambil pusing kami berkeliling kompleks kuil untuk mencari bus stop dan bertanya pada orang lokal. Setelah sukses berbahsa tarzan, kami putuskan mencoba naik bus ke grand temple di bus stop tadi. Setelah naik ke bus yang berhenti dan bertanya pada kondektur, ternyata tujuannya bukan Grand Temple dan kami pun ditepikan oleh sang sopir di dekat bus stop lain sambil diberi petunjuk nomor bus dan arah jalan yang benar. Kami mencoba lagi mengikuti petunjuk tadi dan naik ke bus nomor 70 yang kebetulan sedang melintas. Begitu saya mendekati kondektur dan mengkonfirmasi tujuan Grand Palace dengan menggunakan gambar di peta,

Kondektur berkata “Long bat, long bat!”

“hah? Tanya Grand Palace kok jawabane Low Batt?” celetukku.

“Long Bat, Bat, Bat krukrawakakakukukukapap!” jelasnya lagi.

“Hmmm … wrong bus?” tebakku.

“Long Bat.” Kata kondektur sambil manggut-manggut.

“Oalah ternyata salah bus lagi!” kataku.

Kondektur mendekati sopir dan meminta bantuannya untuk mengetahui bus yang benar.

“Bat, Bat” sambil menunjuk nomor bus di kaca sang sopir mengarahkan telunjuk ke arah bus stop yang ada diseberang jalan.

Ada apa dengan huruf R dan S di thailand ya? pikirku. Saya artikan bahwa kami berada di nomor bus yang benar namun di arah yang salah untuk ke tujuan Grand Palace. Akhirnya bus menepi dan kami lagi-lagi diturunkan ditepi jalan. Kami pun menyebrang ke arah bus stop yang ditunjuk tadi namun tidak melihat nomor bus yang sama di papan bus stop. Saya dan Sudar sempat berdebat mengenai apakah bus yang benar akan melewati bus stop ini atau tidak, sedangkan Fandy mencoba menawarkan menggunakan taksi. Akan tetapi tidak berapa lama bus nomor 70 yang kami tunggu-tunggu tiba dan kami segera naik dan lega setelah dikonfirmasi kondektur bahwa ini bus dengan jurusan yang benar.


Setibanya di kawasan Grand Palace kami memutuskan mengisi perut terlebih dahulu. Disana kami mencoba kacang rebus yang gemuk-gemuk dan putih bersih hmmm… aneka seafood tusuk, es lilin kola, sebelum makan siang disebuah kedai chinese food. Selanjutnya kami memasuki komplek Grand Palace yang benar-benar luas dan indah sehingga harga tiket yang cukup mahal terbayar lunas dengan pengalaman ini. Setelahnya kami sempat mendapatkan pengalaman disodori river tour oleh 2 orang pemandu istana gadungan yang saling pamer pangkat hanya dengan menunjukkan pin yang tersemat dibaju mereka. Kami putuskan berjalan kaki ke dermaga untuk river tur sendiri, namun karena cukup melelahkan seharian berkeliling akhirnya kami memutuskan menggunakan jasa tuk-tuk. Sesampai di dermaga kami menyebrangi Chao Praya menuju ke Wat Arun yang juga dikenal sebagai Temple of Dawn. Melihat langit sudah mulai senja, kami kembali ke dermaga untuk mencari perahu untuk berkeliling di kanal-kanal Bangkok dan melihat beberapa tempat wisata yang berada di tepi sungai/kanal. Di dermaga paling ujung yang berada di area Wat Arun kami menaiki perahu panjang untuk bertiga dan berkeliling ke sungai dan kanal di Chao Praya selama sejam. Walau agak membosankan, setidaknya kami melihat bagaimana kehidupan masyarakat Bangkok yang cukup dekat dengan sungai dan kanal yang tidak dapat ditemui di Jawa.

Selanjutnya kami turun di dermaga lain untuk melanjutkan perjalanan menuju ke arah pusat kota. Tujuan kami adalah Siam Paragon. Di Siam Paragon, kami tidak menemukan sesuatu yang menarik selain mall besar yang serupa dilain tempat. KAmi putuskan untuk menyusuri jalan menuju ke MBK yang berjarak seblok dari Siam Paragon, sepanjang jalan banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya sehingga trotoar sempit maki sempit dengan berjubelnya pejalan kaki yang lewat disitu. Sesampai di MBK yang ternyata sudah hamper tutup karena sudah makin petang, kami memutuskan mengisi perut dahulu. Sayangnya kali ini pesanan saya mengecewakan, maksud hati menikmati degan buah yang segar dengan daging kelapa muda seperti yang dipesan Fandi dan Sudar, eh … ternyata buah saya saking mudanya tidak berdaging! Karena pusat perbelanjaan ini sudah akan berhenti beroperasi, kami putuskan kembali ke hotel dengan taksi, yang lagi-lagi tidak mengerti nama jalan mereka sendiri?!? Setelah akhirnya kami menyetujui bahwa tujuan kami adalah gaosan-lot?!?

Sampai di hotel kami mandi dan bersiap untuk bertualang lagi disekitar khaosan road untuk mencicipi kuliner yang belum kami coba kemarin malam. Fandy memutuskan menikmati Thai-massage disebelah cewek Prancis yang belle tapi pas parle anglais, sedangkan saya dan Sudar menyusuri jalan dan lorong sekitar untuk mencari Tom Yum Goong otentik.walau perut masih kenyang dari makan malam di food court MBK tadi, tapi melihat banyaknya jajanan dan street food khas thai yang bertebaran, kami tiak kuasa untuk tidak mencobanya. Malam ini kami tidur dengan perut yang penuh dan berharap keesokan hari bisa bangun pagi untuk melanjutkan petualangan di hari terkahir kami di Bangkok.

Pagi harinya kami semua bersiap dan mengepak barang-barang kami di kamar hotel, karena hari ini kami check-out sekaligus menuju ke tempat tujuan akhir kami di Chatuchak. Sambil menenteng tas punggung kami masing-masing, kami menyusuri lorong khaosan road terakhir kalinya menuju ke jalan utama. Tujuan pertama kami adalah kuil Wat Pho untuk mengunjungi patung Buddha tidur terbesar. Bunyi koin-koin yang dimasukkan ke mangkok-mangkok perunggu dan dikumpulkan oleh pengurus kuil ke dalam baskom membuat suasana didalam kuil tersebut makin menarik. Kami sempatkan mengelilingi area kuil dan akhirnya memutuskan untuk sarapan pagi di penjaja makanan siap saji sekitar kuil. Dari situ kami lanjutkan perjalanan menuju Chatuchak market dengan taksi. Kurang lebih 45-60 menit kemudian kami tiba di daerah Chatuchak yang sangat padat dengan turis dan masyarakat lokal.

Pasar akhir pekan Chatuchak ini berupa bangunan semi permanen yang tertata di lapangan yang lebih luas dari lapangan bola. Begitu banyak macam dagangan yang ditawarkan, dari kerajinan tangan, aneka macam hasil seni, baju, makanan, hingga aneka binatang yang dimaksudkan untuk dipelihara. Ya, binatang yang dijual tidak hanya berbagai anjing dan kucing, namun juga aneka bajing dan reptil yang dilabeli keras untuk tidak diambil gambarnya, mungkin menghindari protes dan hujatan organisasi penyayang binatang yang tidak bakal setuju dengan praktik ini. Di pasar ini pula kami berkeliling sampai kaki mati rasa, bukan saja karena bingung mencari barang untuk oleh-oleh tapi juga karena kami kehilangan arah ketika Fandy memutuskan untuk menunggu kami disalah satu area. Karena amat besar dan banyak lorong-lorong yang walau telah dipetakan dan tersedia peta khusus bagi para pelancong agar tidak tersesat, saya dan Sudar dua kali mengelilingi area pasar dari dalam maupun luar untuk menemukan lokasi pertemuan yang disepakati pada awalnya. Namun, kami juga menemukan beberapa minuman unik dan segar yang tidak dapat kami temukan di Indonesia serta pencuci mulut lezat yang terbuat dari buah labu kecil dan custard diatasnya… yumm! Setelah merasa cukup berbelanja, kami merasa waktunya untuk mengakhiri kunjungan di pasar Chatuchak, dan setelah berunding, kami rasa ada cukup waktu mengunjungi satu mall lagi di pusat kota.


Berdiri di pinggir jalan dan mencari taksi untuk mengantarkan kami ke Platinum Shopping Center ternyata cukup sulit, bukan karena jarang taksi yang melintas, namun karena rata-rata taksi yang kami minta untuk mengantarkan kesana menolak menggunakan argo bahkan langsung menolak. Setelah beberapa taksi tidak bersedia, kami putuskan untuk menyetujui membayar 100 baht untuk kesana, ternyata alasan mereka menolak kami karena area kota sangat padat dan macet. Di Taksi yang kami tumpangi ini sempat terjadi beberapa hal konyol masalah bahasa, mulai dari tujuan ke Platinum yang ternyata dibaca Pratinam oleh sang sopir hingga nama kawasan yang dilewati saat itu, bahkan ketika sopir taksi memberikan operator di hpnya untuk berbicara dengan kami. Saat itu kami agak khawatir dengan kemacetan yang membuat kami memikirkan ulang tujuan untuk mengunjungi Platinum, namun kami perlu tahu dimana posisi kami saati itu untuk mengambil keputusan selanjutnya. Disekitar jalan yang kami lalui tidak terlihat tulisan atau nama gedung yang mudah dibaca untuk dijadikan petunjuk.

“What road? What street? Here! Here! Sambil mengacungkan tangan kemana-mana ala tarzan agar sang sopir menangkap maksudnya.

“no engglit, no engglit” jawab si sopir.

“cak tratatatas parapapapap kapakapa kap” lanjutnya.

“Hah, maksudnya apa ya? Tanyaku ke Sudar dan Fandy.

Sang sopir dengan sigap langsung memencet tombol-tombol hpnya dan rupanya menghubungi operator taksi untuk dibantu menerjemahkan permintaan kami.

“Can you tell the driver, where are we now?” tanyaku ke operator yang Inggrisnya juga pas-pasan dan aksen aneh pula.

“wat wat, kap kap” jawabnya

Saya serahkan hp ke sang sopir dengan maksud agar si operator dapat menanyakan nama jalan ke sopir dan kemudian menyampaikan pada kami. Eh!… ternyata diluar bayangan sang sopir malah asik ngobrol dengan si operator di hp sambil bersenda gurau.

“Jangkrik, kok malah curhat? Ngomong opo iku rek? Ga genah kok!” celetukku sambil menole

h ke belakang kea rah Fandy dan Sudar duduk.

“hahaha … ditinggal curhat mbek sopire” kata Sudar.

Dan benar setelah itu hp dimatikan dan langsung masuk ke saku tanpa ada tanda-tanda kami akan diberi tahu jalan yang kami lalui saat ini.

“No engglit, no engglit, hahaha . . . thai thai” kata sang sopir.

“De’e bilang de’e orang Thailand, nanya kamu orang apa?” kata Sudar padaku.

“hebat kon isa ngerti bahasane?” timpalku.

“Indonesia” jawabku ke sopir taksi.

“Ooo Indonesia . . . Kris Jon, Kris Jon!” kata sang sopir.

“Ya ya . . . Chris John, from Indonesia” jawabku.

Ternyata orang Thai memang kenal dengan Chris John dan gemar onton tinju karena ini bukan pertama kali kami mendapat jawaban serupa saat memperkenalkan diri dari Indonesia.

Beberapa saat kemudian kami melewati stasiun skytrain yang lengkap dengan papan namanya. Dari situ kami akhirnya tahu lokasi kami saat itu dan segera berputar otak untuk diturunkan ke stasiun skytrain selanjutnya yang menuju ke bandara karena waktu yang tersisa sebelum boarding flight kami hanya sekitar 3 jam. Saya akhirnya bernegosiasi dengan sang sopir untuk merubah tujuan awal kami dari Platinum menuju ke Ratchaprarop station dengan jurus ala tarzan dan berhasil! Setelah tiba distasiun tujuan dan berterima kasi dengan sang sopir, mulailah kam berjalan cepat menuju ke stasiun skytrain Bangkok, berbeda dari MRT di Singapura atau monorel di Malaysia yang hanya berada satu level diatas jalan raya, di Bangkok skytrain berada 3 level diatas jalan raya dan tidak dilengkapi escalator, alias hanya ada tangga manual! Hal ini wajar, karena melihat system jalan di Bangkok yang padat dan penuh jaringan jalan layang bertumpuk yang tidak memungkinkan untuk dibangun jalur rel layang yang hanya berada satu level dari jalan raya. Untungnya setelah sampai di level 2, tempat mesin token skytrain otomatis dan kantor petugas skytrain berada, disediakan escalator menuju platform skytrain di level 3. Setelah akhirnya merasakan semua moda transportasi yang ada di Bangkok kami akan menuju Suvarnabhumi untuk pulang.

Sesampai di Stasiun terakhir di bawah bandara Suvarnabhumi, kami melemaskan kaki dan mulai bergantian menyegarkan diri di toilet untuk mencuci muka, berganti pakaian dan mengisi botol minum kami masing-masing. Setelah itu kami mencari makan malam sebelum check-in, karena waktu masih tersisa 2 jam dan sempat pula diajak berbahasa thai disangka orang lokal oleh pelayan restoran. Kami menyempatkan menghabiskan sisa uang kecil dan koin untuk oleh-oleh. Setelah melihat jam menunjukkan jam hanya tersisa 1 jam lebih, kami cepat-cepat menuju ke counter untuk check-in dan sempat pula Saya dan Sudar mengambil foto diatas Tuk-Tuk yang disediakan di lounge. Setelah kami menuju ke bagian imigrasi dan melihat antrian yang sangan panjang dan padat, barulah kami merasa was-was apakah waktu yang tersisa cukup sebelum gate flight kami ditutup! Setelah melewati antrian panjang dan berbagai pemeriksaan lainnya, kami bertiga segera berlari menuju ke gerbang penerbangan kami yang ternyata masih amat jauh dan menghabiskan waktu sekitar setengah jam dengan berlari bahkan diatas conveyor!

Keberuntungan ternyata masih berpihak pada kami karena penerbangan kami terlambat sekitar 20 menit dan kami sempat beristirahat sebentar di ruang tunggu setelah berlarian takut ketinggalan pesawat. Begitu kami duduk di bangku pesawat, perasaan lega dan lelah bercampur. Benar-benar pengalaman yang mengesankan di kota seribu wat. Kami harap lain waktu dapat berkunjung lagi untuk menikmati keindahan alam dan pantainya yang tersohor.

the end.

Tips untuk berjalan-jalan di Bangkok :

1. pastikan survey tempat-tempat wisata melalui website resmi dimana tarif masuk/tiket wisata ditulis jelas untuk menghindari salah bayar

2. buku panduan perjalanan murah cukup berguna sebagai panduan Anda sebelum bertanya ke orang lokal

3. usahakan bepergian pada saat hari besar Buddha untuk yang tertarik pada hal-hal yang berbau budaya untuk dapat masuk ke kui;-kuil cantik secara gratis 🙂

4. hindari bepergian dengan tuk-tuk apabila waktu terbatas karena Anda akan dibawa menuju toko perhiasan dan tekstil yang dimana pengemudi tuk tuk mendapatkan voucher bbm yang cukup memakan waktu

5. sempatkan mampir ke weekend market Chatuchak dimana semua yang ada cari ada disitu bahkan lebih, ditambah lagi aneka jajanan dan makanan yang tersedia beragam dan nikmat!

6. apabila ada kesulitan lebih bijak menemui polisi atau petugas resmi pariwisata di tempat resmi untuk menghindari penipuan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

One Comment

  1. Feb
    Sep 17, 2012 @ 03:13:22

    Senasib! aku ya ketipu orang yg ngaku polisi wisata, sampe nunjukin IDnya segala, menawarkan harga tuk2, beralasan jam ist temple tutup (padahal ga ada tutupnya blas). Haha tp ya sudahlah, pengalaman naik tuk2.Untungnya ga sampe hrs dimeniti 10mnt br boleh out.

    Reply

Leave a Reply