TIPS TRAVELING DI ARGENTINA..

TIPS TRAVELING DI ARGENTINA

TIP 1: TRANSPORTASI

Repotnya, tidak seperti di Asia Tenggara, Argentina dan Amerika Selatan umumnya seperti tidak mengenal konsep “budget airlines”. Tidak ada airlines di sana yang murah-meriah-pokoknya-sampai seperti Air Asia, Tiger Airways, Jetstar, atau Easyjet di Eropa. Airline flag-carrier Argentina sendiri, Aerolineas Argentinas, walaupun pelayanan dan fasilitasnya mirip-mirip Air Asia (yang berarti sekedarnya, dan masih mending Garuda kita ke mana-mana), tapi harga-harga tiketnya ya mahal sekelas Garuda (walaupun satu hal yang layak dipuji dari Aerolineas Argentinas adalah bahwa mereka ini kelihatannya menerapkan kebijakan Equal Employment Opportunity, terlihat dari pramugari-pramugarinya yang tidak satu pun aku lihat yang cantik ataupun langsing atau bahkan muda. Berbeda sekali dengan pramugari-pramugari Singapore Airlines atau Qatar Airways yang pasti seleksinya melewati tahap seleksi fitur fisik yang ketat. Come to think of it, hal yang sama ditemui di umumnya airlines Asia yang pramugari2nya bisa jadi tolak ukur kecantikan fisik, sementara airlines Eropa, Amerika dan Australia pramugarinya banyak yang simbok-simbok.

OK cukup tentang pramugari, kembali ke transportasi udara di Argentina secara umum. Selain Aerolineas Argentinas, di Argentina juga beroperasi airlines lain seperti LAN (Chile) dan TACA (Peru), tapi pelayanan dan harga-harga tiketnya ya sebelas dua belas deh dengan Aerolineas Argentinas, setara mahalnya. Still, it’s worth routinely checking the airlines’ websites and comparing their prices for your target destinations.

Selain pesawat, alternatif lainnya apa lagi? BUS MALAM! Nah di sinilah layanan transportasi Argentina menunjukkan giginya. Kalau kamu punya waktu, sempatkanlah untuk bepergian jarak jauh menggunakan bis malam di Argentina. Pertama, yang jelas naik bis lebih murah dari naik pesawat. Kedua, bis malam di Argentina adalah moda transportasi yang jauh lebih nyaman, dan lebih luxurious, dari pesawat. Aku beberapa kali mendengar orang-orang dari negara-negara maju yang terkagum-kagum ketika naik bis malam di Argentina.

Seperti apa sih memangnya bis malam di Argentina? Well, for starters, bisnya besar-besar, sehingga lebih stabil dan lebih nyaman dan memberi ruang untuk tempat duduk/jok yang lebar-lebar juga. Tempat duduk di dalam bis biasanya diatur dalam formasi satu-dua, sehingga lebih memberi ruang untuk dipasangi jok jok yang lebar juga. Kedua, kalau ambil kelas coche cama atau coche ejecutivo, sandaran jok kita bisa dijeblakke (baca: reclined) sampai jauh ke belakang, bahkan sampai 180? atau fully reclined, menjadikan jok bis ini sebagai mini-bed sehingga kita bisa tidur nyaman sepanjang perjalanan tanpa badan harus tertekuk-tekuk seperti biasanya kalau kita mencoba tidur di atas bis atau pesawat kelas ekonomi atau bahkan kelas bisnis pada umumnya sekalipun. Bisanya kita tidur nyaman di atas bis malam ini membuat bis malam ini bisa dijadikan alternatif penginapan. Maksudnya? Ya dengan bepergian dari satu kota ke kota lain naik bis di malam hari begini, kita bisa menghemat biaya penginapan kan. Berangkat sore/malam, tidur nyaman sepanjang jalan di atas bis, dan tiba paginya dengan badan segar di kota tujuan. Dan terhematlah satu malam sewa kamar hotel.

Di pitstop bis Andesmar antara Buenos Aires dan Mendoza

Duduk setengah tidur nyaman di leather seat

Harga tiket bis malam di Argentina biasanya sudah mencakup first snack, dinner, dan breakfast. Jangan dibayangkan menu di atas bis ini seperti menu di atas bis malam Muncul atau Putra Remaja atau Safari Darma Raya di Indonesia yang cuma satu kotak kecil berisi sebatang arem-arem dan segelas plastik air mineral ya! Bahkan jauh lebih baik daripada menu makanan di pesawat kelas ekonomi. Ini full meals! Dan HOT meals, walaupun disajikan dan di makan di atas tray di dalam bis selama bis berjalan. Misalnya, makan malam biasanya dimulai dengan appetizer berupa cold cuts plus cheese atau salad, serta roti hangat dengan mentega.  Main course datang dengan pilihan, bukan fait accompli. Bisa berupa steak, ikan atau pasta misalnya. Dessert bisa berupa yoghurt atau flan atau puding roti (budin de pan). Minum? Free flow! Tinggal pilih mau air putih, Cola, Seven Up, kopi, teh, bahkan bermacam wine (disajikan dalam botol kecil untuk satu orang) dan champagne! Now that’s what I call service!

Naik bis juga memberi kita kesempatan lebih banyak untuk “menghirup” suasana perjalanan. Instead of terkurung dalam burung besi dengan hanya bisa melihat awan sementara kita melesat menuju kota tujuan, dengan bis kita bisa melihat suasana countryside, melihat suasana kota-kota kecil dan desa-desa yang dilewati, melewati pegunungan, padang rumput, peternakan, kebun-kebun anggur, dan sebagainya yang tentunya akan memperkaya pengalaman travelling kita dan pemahaman kita akan negara tempat kita berada. Bis-bis overnight di Argentina biasanya memiliki jendela yang besar- besar. Untuk view yang paling optimal, aku sarankan memesan tempat duduk di lantai atas (aku lupa bilang ya kalau bis malam di Argentina kebanyakan  berlantai dua) di deret paling depan, langsung di kaca depan, sehingga kita seakan sedang menonton live road trip report di layar lebar.

Front row seat to the live road trip reportage on big screen

Tiket ke hampir semua penjuru Argentina, bahkan untuk perjalanan sangat-sangat panjang seperti ke kota Salta (22 jam dari Buenos Aires) atau ke Ushuaia (54 jam dari Buenos Aires) dan ke luar negara Argentina (seperti ke Rio de Janeiro di Brazil dan Lima di Peru serta Santiago di Chile) dapat dibeli terminal pusat Buenos Aires, Retiro. Di lantai 3 terminal besar ini berderet puluhan loket berbagai bus company yang melayani berbagai route. Tinggal lihat daftar nama kota yang dilayani masing-masing bus company, cocokkan dengan tujuan kita, bandingkan harga-harganya, dan pilih. Beberapa bus company yang punya banyak route dari Buenos Aires adalah Andesmar, El Rapido, Chevalier, Don Otto dan Via Bariloche. Berdasarkan pengalaman mencoba berbagai bis, favoritku adalah Via Bariloche.

Nah, pesawat dan bis sudah, sekarang kereta. Sayangnya kereta api di Argentina tidak bisa diandalkan untuk perjalanan jarak jauh. Selain jaringan relnya terbatas, naik kereta umumnya memakan waktu lebih lama daripada naik bis, dan dengan kondisi fasilitas maupun layanan di atas kereta yang kalah jauh dibanding naik bis dengan harga yang tidak jauh lebih murah juga. So unless you’re a train freak, forget about long distance train trip.

Salah satu perjalanan naik kereta yang layak dilakukan di Argentina adalah short trip dari Vicente Lopez ke Tigre dengan Tren de la Costa (Train Of The Coast). Kereta yang khusus didesain untuk mengoptimalkan pemandangan dari dalam kereta, Tren de la Costa melewati kota-kota kecil yang cantik di sepanjang pantai Rio de La Plata dengan stasiun-stasiun kecil pemberhentian yang cantik-cantik. Satu tiket Tren de la Costa seharga sekitar Rp 30 ribu ini berlaku untuk satu hari dan sifatnya hop-on hop-off, jadi kita bisa turun di sembarang stasiun sepanjang perjalanan untuk menikmati keunikan masing-masing stasiun. Ada stasiun yang memiliki pasar kerajinan yang lucu-lucu, ada stasiun yang memiliki restoran yang cozy dengan pemandangan pantai, ada stasiun yang dikelilingi taman di tepi pantai….. Selain pemberhentian-pemberhentian itu, sepanjang perjalanan Tren de La Costa ini melewati area pantai dengan rumah-rumah yang cantik, route yang agak lebih jauh menuju Tigre daripada route kereta biasa tapi dengan pemandangan yang jauh lebih memuaskan.

 

TIP 2: MAKAN MURAH

Mau diulik kayak apa aja, makan di Argentina jelas lebih mahal daripada di Asia Tenggara, bahkan dibandingkan dengan di Singapura sekalipun. Di Argentina tidak ada versi warung Tegal atau warung Padang murah di mana seperti di sini orang, bahkan satu keluarga, bisa tidak pernah masak dan mengandalkan beli atau makan di warung-warung itu sebagai makan sehari-hari.

Sekali makan di sebuah restoran standar dengan langsung satu menu utama dan satu minum non-alkohol (jadi tanpa makanan pembuka dan makanan penutup) bisa menghabiskan sekitar Rp 70ribu sampai Rp 100 ribu. Tentunya akan lebih mahal lagi kalau makan di restoran bagus atau restoran yang mentarget para turis, dan di lokasi turistik pula.

Yang menjengkelkan, dan yang membuat biaya makan tinggi selama travelling di Argentina adalah harga minuman di restoran yang tinggi. Tidak seperti di Indonesia, umumnya di sana kita tidak bisa pesan air putih gratis atau teh tawar gratis, apa lagi yang sampai pesannya refill berulang-ulang gratisan. Air putih? Adanya air mineral, bayar. Teh? Bayar. Dan yang bikin jengkel lagi, harga sebotol air mineral bisa sama dengan atau bahkan lebih mahal dari sebotol Coca Cola atau bahkan segelas house wine! Lha kalau begitu kan ya eman-eman to pesan air putih…

Ah…satu hal lagi yang menjengkelkan walaupun mungkin tidak cukup tega untuk jengkel adalah soal tip untuk pramusaji. Memberi tip adalah kebiasaan di Argentina, dan para pramusaji memang mengharapkan itu. Di daftar menu dan di bon yang diberikan biasanya ada tulisan “Harga belum termasuk tip”. Lantas berapa tip yang wajar? Biasanya 10% dari total nilai pesanan. Kalau mau lebih ya silakan tentunya. Tapi kalau nilai pesanan makanan kita sekitar Rp 100ribu kan ya nilai tipnya sudah Rp 10ribu sendiri, yang kalau di Indonesia uang segitu sudah bisa dapat sebungkus nasi Padang dengan telur bulat dan sayur. Lha sebagai traveller kere kan hal begitu ya kepikir dan kehitung, hehehe….

Lantas, bagaimana tipsnya untuk makan murah selama travelling di Argentina? Masih bisa sih, ada beberapa cara.

Kalau kamu orangnya tidak terlalu cerewet soal makan, kamu bisa bertahan dengan makan berbagai sandwich atau pizza dan burger yang dijual di supermarket. Relatif jauh lebih murah daripada makan di restoran (tapi jangan Burger King atau MacDonalds ya, itu mah mahal lagi juga). Setangkup sandwich isi ayam atau ham atau keju di supermarket harganya paling-paling Rp 20ribu. Beli di supermarket, dan makan sambil jalan atau sambil duduk di bangku taman atau bangku pinggir jalan. Selain sandwich, bisa juga beli empanada (umum di Argentina, Chile dan Uruguay), seperti panada/pastel yang dimasak di oven dan bisa berisi ayam, sapi, ham atau keju. Ukurannya besar. Makan dua buah empanada sudah cukup mengenyangkan.

Untuk menghemat pengeluaran di sektor minuman, kamu bisa membeli minuman kemasan di supermarket, yang jauh lebih murah daripada membeli minuman di restoran (iyalah…). Kalau mau lebih murah lagi, beli satu botol air mineral, dan isi ulang dari keran-keran di kamar mandi mana saja yang kamu temui. Air keran di Argentina umumnya bisa langsung diminum.

Kalau masih ingin makan di restoran, alternatif paling murah biasanya adalah restoran-restoran Cina. Di antara restoran-restoran etnis, restoran Cina adalah yang paling luas tersebar di mana-mana, dan yang paling murah juga (restoran etnis lain seperti India, Arab, Armenia, Thailand dan Vietnam umumnya jauh lebih mahal, lebih mahal daripada restoran tradisional Argentina atau restoran masakan Italia). Dan enaknya, banyak restoran Cina ini yang menghitung jumlah yang harus kita bayar berdasarkan BERAT makanan yang kita beli, BUKAN JENIS makanannya. Jadi beli setengah kilo sosis atau daging sama saja harganya dengan beli setengah kilo nasi atau setengah kilo salad. Nah sudah jelas kan jadinya apa yang akan dipesan kalau begini? J

Nah, tip favorit aku soal makan di Argentina adalah TENEDOR LIBRE! Walaupun tidak murah-murah betul (expect to shell out sekitar Rp 100ribu), tapi ini adalah THE BEST VALUE FOR MONEY DEAL! Bahkan dibandingkan dengan harga di Indonesia sekalipun.

Tenedor Libre literally berarti Garpu Bebas. Maksudnya? All You Can Eat restaurants! Tenedor Libre ada di mana-mana di kota-kota Argentina. A must try. Dengan membayar sekitar Rp 100ribu (di luar minum) kamu bisa makan sepuasnya berbagai macam daging panggang (sapi, ayam, babi), ikan, chinese food, pasta, berbagai salad, nasi, kentang, sayuran, pizza, sampai berbagai macam dessert, mulai dari buah-buahan, puding, flan, crepes dan pancake. Semua all you can eat, dan semua self-service (kecuali bagian barbecue-nya yang memang memerlukan seorang asador/pemanggang khusus. Hal ini akan aku ceritakan di Note terpisah). Ha mbok di Indonesia juga nggak ada lho yang semurah itu!

Satu Tenedor Libre di Avenida Corrientes

All you can eat, self service, Tenedor Libre

Various cuts of meat on a barbecue in a Tenedor Libre

 

TIP 3: TOILET

Surprisingly, toilet umum tidak begitu mudah ditemukan di Argentina. Dan kalau di sini kita bisa mengharap menggunakan toilet yang ada di dalam mal-mal, lupakan hal itu selama di Argentina karena tidak seperti di Jakarta yang mal-mal besarnya berserakan di dalam kota, di sana hampir tidak ada mal besar, dan kalaupun ada, sangat jarang dan letaknya berjauhan dan bahkan di luar kota.

Your best bet untuk menemukan toilet kalau kepepet adalah di dalam toko besar seperti toko buku El Ateneo. Atau bisa juga menggunakan toilet yang ada di kafe-kafe atau restoran yang banyak bertebaran di mana-mana. Hanya saja, banyak kafe/resto yang memasang tanda “Toilet khusus bagi pengunjung restoran”, jadi ya kalau kepepet perlu sekali pakai toilet, ya belilah paling tidak secangkir kopi.

Satu hal lagi yang perlu diingat mengenai toilet di Argentina: SELALU BAWA TOILET PAPER SENDIRI! Toilet umum di Argentina ini sudah jarang terdapatnya, seringkali pula tidak menyediakan toilet paper. Walaupun tidak semenjengkelkan toilet-toilet umum di Melbourne yang sering sekali aku temui bekas dipakai tapi tidak disiram, ketidaktersediaan toilet paper ini bisa jadi insiden gawat nian kalau sudah terlanjur kita beraksi di situ kan… J

 

TIP 4: PENIPU TURIS

Sama seperti di tempat-tempat tujuan wisata di mana pun, turis menjadi incaran, menjadi sumber rejeki baik legal maupun ilegal.

Kalau kamu sedang berjalan dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil dan berkata, “Mas…Mas…itu di baju/rambut/punggung Mas ada kena kotoran/cat/tai burung..”, hati-hati!! 99,9% itu penipu. Biasanya mereka (dan benar “mereka” karena penipu-penipu ini bekerja berkelompok) mengincar orang yang dari tampang maupun bawaannya “turis” or at least bukan orang setempat. Satu orang akan diam-diam mencipratkan semacam lotion/cairan kental yang baunya bisa harum seperti lotion beneran sampai yang busuk seperti tai burung ke baju/rambut kita dari belakang or tanpa sepengetahuan kita, dan kemudian menghilang. Rekannya akan tiba-tiba muncul dan berperan sebagai penduduk lokal yang baik hati yang memberitahu bahwa baju/rambut kita kotor. Biasanya ia kemudian akan mengeluarkan tissue dan menawarkan untuk membersihkan/mengelap baju/jaket/rambut kita yang kotor itu. Kalau memungkinkan ia malah akan meminta kita melepas jaket/mantel/ransel yang kita pakai “untuk memudahkan membersihkannya”. Nah pada saat itulah tangannya akan bergerak terampil dan cepat ke kantong-kantong jaket/mantel kita itu, mencari dompet dan barang berharga lainnya. Setelah dapat, mereka akan pergi cepat-cepat dengan rasa terima kasih kita yang tidak tahu dan mengira mereka adalah orang yang sangat ramah yang membantu membersihkan pakaian kita, sebelum kita kaget histeris begitu tahu dompet/barang berharga kita hilang dicuri “Orang Samaria Yang Baik Hati” itu.

Aku sendiri tiga kali dikerjai seperti ini di Buenos Aires. Dan satu dari tiga kali itu mereka berhasil dengan sukses “meringankan beban saya” dengan  cara mencuri ransel saya yang berisi laptop. Menurut polisi di kantor sektor jalan Tucuman yang saya lapori, modus operandi itu sudah sangat umum dilakukan untuk menipu turis/orang asing di Buenos Aires. Jadi teman-teman, ingat dan waspada ya kalau ketemu yang model begini.

 

TIP 5: PENGINAPAN MURAH

Tip mengenai penginapan murah aku tulis di Note berikutnya saja ya. Ini sudah hampir tengah malam. Ngantuk, lapar, dan mata sudah berkunang-kunang karena kelamaan menatap layar laptop. Stay tuned!

Ditulis oleh:

Immanuel Sembiring

Salah satu member group FB Liburan Murah yang sudah melanglang buana dalam & luar negeri 🙂